Konteks singkat (baca dulu):
Pada 27 Desember 1949 Indonesia resmi menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS)—bentuk negara federal—tetapi kurang dari satu tahun kemudian, pada 17 Agustus 1950, pilihan itu dibatalkan dan Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan (NKRI). Peralihan ini mengandung persoalan politik, identitas nasional, dan kepentingan daerah.
Tugas:
Bayangkan kamu adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat RIS pada tahun 1950. Dalam 1 dokumen singkat, buatlah rekomendasi kebijakan yang meyakinkan baik politikus pro-federal maupun pro-kesatuan untuk memilih satu dari dua opsi: pertahankan RIS (federal) atau kembalikan ke NKRI (kesatuan).
Dokumenmu harus memuat empat bagian berikut:
Pembukaan singkat (maks. 2 paragraf): jelaskan peranmu (mis. wakil daerah X), dan tujuan kebijakan yang kamu usulkan.
Analisis keuntungan & risiko (poin-poin, minimal 4 untuk tiap sisi): jelaskan alasan historis, sosial, politik, dan ekonomi yang mendukung pilihanmu — dan pengawasan/syarat jika pilihan itu dipilih.
Rencana tindakan konkret (3 langkah prioritas): apa yang harus dilakukan pemerintah pusat dan daerah selama 12 bulan pertama agar transisi berjalan aman dan adil? (mis. desain institusi, jaminan hak minoritas, pengawasan anggaran, dsb.)
Elemen persuasif yang “menyenangkan” (wajib):
Buat satu slogan pendek (maks. 10 kata) yang merangkum pilihanmu, dan
Tambahkan satu metafora kreatif (1–2 kalimat) yang menggugah perasaan pembaca tentang masa depan bangsa bila rekomendasimu diikuti.
Batasan & Petunjuk Teknis:
Panjang dokumen: 350–550 kata.
Gunakan bahasa baku namun hidup.
Sertakan minimal 2 argumen berbasis fakta sejarah atau logika (boleh pakai pengetahuan umum—tak perlu kutipan formal).
Waktu pengerjaan: 45–60 menit di kelas.
🔍 Kriteria Penilaian (Total 100 poin)
Kedalaman analisis & relevansi argumen — 40 poin
Kejelasan rencana tindakan (3 langkah konkret) — 20 poin
Kekuatan retorika & persuasi (termasuk slogan & metafora) — 20 poin
Kerapihan bahasa & struktur tulisan — 10 poin
Kreativitas & orisinalitas — 10 poin
💡 Tips untuk Siswa (supaya seru dan tajam)
Bayangkan audiensmu: apakah kamu bicara pada politisi, rakyat pedesaan, atau pemimpin militer? Sesuaikan nada.
Gabungkan emosi (kebanggaan, kekhawatiran) dengan logika (biaya, stabilitas).
Slogan harus singkat dan gampang diingat — bayangkan ditulis di poster.
Metafora boleh lucu atau puitis—yang penting menyentuh.
CONTOH JAWABAN
Peran: Wakil Daerah Sulawesi di Dewan Perwakilan Rakyat RIS (1950)
Pilihan: Kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
Pembukaan
Saya, sebagai wakil rakyat dari Tanah Sulawesi, berdiri di hadapan sidang ini dengan tekad yang bulat: Indonesia harus kembali menjadi negara kesatuan.
Selama setahun menjadi Republik Indonesia Serikat, saya menyaksikan betapa rakyat di daerah bingung, terbelah, dan kehilangan arah. Mereka tidak memahami mengapa saudara sebangsa kini dipisahkan oleh batas-batas negara bagian yang seolah-olah baru.
Tujuan saya sederhana: menyatukan kembali cita-cita kemerdekaan seperti yang diikrarkan dalam Proklamasi 17 Agustus 1945 — satu tanah air, satu bangsa, satu negara.
Analisis Keuntungan dan Risiko
Keuntungan kembali ke NKRI:
Identitas nasional lebih kuat. Rakyat kembali merasa satu keluarga, bukan sekadar bagian dari federasi.
Koordinasi pemerintahan lebih efisien. Tidak perlu lagi proses ganda antara pemerintah pusat dan negara bagian.
Pertahanan dan keamanan lebih kokoh. Dalam situasi pascakolonial, ancaman perpecahan harus dicegah sejak dini.
Ekonomi dan distribusi bantuan lebih merata. Tidak lagi ada “negara bagian kaya” dan “negara bagian miskin.”
Risiko jika tetap RIS:
Potensi perpecahan. Tiap negara bagian bisa menuntut otonomi lebih jauh hingga memisahkan diri.
Birokrasi berlapis. Keputusan lambat karena harus melewati banyak jenjang.
Kesenjangan pembangunan meningkat. Daerah kuat bisa mendominasi yang lemah.
Luntur semangat kemerdekaan. Rakyat kembali merasa terpecah seperti masa kolonial “divide et impera.”
Rencana Tindakan Konkret (12 Bulan Pertama)
Transisi administrasi seragam. Semua negara bagian dilebur menjadi provinsi, tetapi tetap diberi otonomi daerah terbatas untuk urusan lokal.
Program “Kembali ke Merah Putih”. Pemerintah menggelar tur persatuan di setiap daerah untuk meneguhkan identitas nasional.
Audit aset dan anggaran. Supaya tidak ada kecurigaan antara daerah dan pusat, semua aset negara bagian diaudit terbuka.
Elemen Persuasif
Slogan:
“Satu Nusa, Satu Jiwa, Tak Terbelah Dua!”
Metafora:
Bangsa kita seperti air sungai yang mengalir dari banyak mata air — jika dibiarkan mengalir sendiri-sendiri, ia mengering. Tetapi jika disatukan menjadi satu aliran besar, ia akan menggerakkan turbin kemerdekaan yang menyalakan cahaya bagi seluruh nusantara.









Satu Komentar