Home / Berita Terkini / Jejak waktu / Luka Abadi di Palu: Gempa, Tsunami, dan Tanah Bergerak

Luka Abadi di Palu: Gempa, Tsunami, dan Tanah Bergerak

RameNews, Sulawesi – Hari ini, 28 September, menandai tujuh tahun sejak bumi Palu dan sekitarnya bergetar hebat. Tahun 2018 menjadi saksi bagaimana tiga bencana datang beruntun dalam hitungan menit: gempa besar, tsunami, dan likuefaksi.

Dalam sejarah kebencanaan Indonesia modern, Palu–Donggala mungkin adalah peristiwa paling menggetarkan hati, bukan hanya karena dahsyatnya skala kerusakan, tapi karena bagaimana alam seolah “menelan” seluruh kehidupan yang berdiri di atasnya.

Pukul 18.02 WITA, Jumat sore 28 September 2018, gempa berkekuatan M 7,4 mengguncang Palu dan Donggala. BMKG mencatat, gempa itu berasal dari Sesar Palu Koro, salah satu patahan aktif paling berbahaya di Indonesia.

Jenisnya gempa dangkal, sehingga energi getarannya langsung terasa kuat di permukaan. Dalam waktu singkat, dinding-dinding runtuh, kabel listrik terputus, dan jalan-jalan terbelah.

Hingga Sabtu pagi, tercatat 76 gempa susulan, dengan kekuatan terbesar mencapai M 6,3. Getarannya bahkan terasa hingga Mamuju dan Poso.

Belum sempat warga pulih dari guncangan, laut tiba-tiba naik. Gelombang setinggi 0,5 hingga 3 meter menyapu pesisir Teluk Palu, menghancurkan rumah, kapal, dan jembatan.

Gelombang datang begitu cepat, membuat banyak warga tak sempat menyelamatkan diri. Mereka yang sedang menikmati Festival Palu Nomoni di tepi pantai, menjadi saksi sekaligus korban dari bencana yang datang tak diundang itu.

Yang paling menakutkan datang beberapa menit kemudian. Tanah-tanah di Petobo, Balaroa, dan Jono Oge (Sigi) tiba-tiba berubah jadi seperti cairan. Rumah-rumah, kendaraan, dan manusia yang berdiri di atasnya — semuanya tersedot dan lenyap.

Fenomena ini dikenal sebagai likuefaksi, kondisi ketika tanah kehilangan kekuatannya akibat getaran gempa, hingga berperilaku seperti lumpur hidup. Bayangkan: satu desa bisa berpindah beberapa ratus meter dari posisi semula, seolah “diseret” oleh bumi yang bergolak. Total area yang terdampak mencapai 430 hektare lebih.

Baca juga: 18 September 1948: PKI Nekat Membentuk Republik Soviet Indonesia

Ribuan lainnya mengalami luka berat akibat reruntuhan dan serpihan bangunan. Di Sigi dan Donggala, ribuan warga kehilangan seluruh harta benda. Tak ada yang bisa diselamatkan, rumah, kendaraan, bahkan akta kelahiran ikut hilang ditelan bumi.

Kerusakan yang ditinggalkan bencana ini luar biasa. BNPB memperkirakan kerugian ekonomi mencapai lebih dari Rp 18 triliun, dengan 68 ribu rumah hancur total.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menetapkan masa tanggap darurat hingga awal 2019, sebelum berlanjut ke masa rehabilitasi dan rekonstruksi.

Kini, di atas lahan 600 hektare, ribuan Hunian Tetap (Huntap) dibangun, simbol kebangkitan dari reruntuhan.

Tujuh Tahun Kemudian: Palu Masih Berdiri

Hari ini, Palu memang tidak lagi berdebu seperti dulu. Gedung baru berdiri, sekolah kembali ramai, dan suara adzan kembali terdengar dari masjid yang dulu rata tanah. Namun, di balik itu semua, masih ada mereka yang belum pulih, bukan secara fisik, tapi secara batin.

Setiap kali tanah bergetar sedikit saja, sebagian warga masih refleks berlari keluar rumah. Trauma itu masih hidup, sama seperti kenangan tentang mereka yang tak pernah ditemukan.

Tragedi Palu adalah cermin betapa kecilnya manusia di hadapan alam. Gempa, tsunami, dan likuefaksi bukan sekadar bencana, tapi peringatan keras bahwa pembangunan tanpa kesadaran lingkungan hanyalah bom waktu.

Di banyak daerah, izin bangunan masih diberikan di atas zona rawan patahan. Kawasan pesisir padat tanpa sistem peringatan dini, dan mitigasi sering kali hanya berhenti di atas kertas.

Padahal, alam tidak pernah menghukum, ia hanya menegur. Dan setiap teguran, seharusnya menjadi pelajaran yang menumbuhkan kesadaran, bukan sekadar belas kasihan sesaat.

RameNews percaya bangkit dari bencana bukan sekadar membangun rumah baru, tapi membangun kesadaran baru. Bahwa keselamatan manusia dimulai dari menghormati alam tempat kita berpijak. (yans)

Tonton juga: The Conjuring: Last Rites (Membosankan..)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *