Home / Berita Terkini / Nasional / Prabowo dan Gibran Menunduk di Sumur Sejarah

Prabowo dan Gibran Menunduk di Sumur Sejarah

RameNews, Jakarta -Suasana hening menyelimuti Monumen Pancasila Sakti, Rabu (1/10), saat Presiden Prabowo Subianto memimpin upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Namun momen paling menggetarkan justru terjadi setelah upacara usai ketika Presiden menuruni tangga menuju Sumur Lubang Buaya, tempat sejarah kelam bangsa itu tertulis abadi.

Presiden Prabowo tidak sendiri. Ia didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bersama sang istri Selvi Ananda, Ketua DPR RI Puan Maharani, dan Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Turut hadir pula sejumlah pejabat tinggi negara dan petinggi TNI-Polri.

Dipandu Kapusjarah TNI Brigjen Stefie Jantje Nuhujanan, Presiden melangkah perlahan menuju tepi sumur. Begitu sampai di depan lubang bersejarah itu, Prabowo berhenti, menundukkan kepala, dan memejamkan mata. Di belakangnya, Gibran berdiri diam dengan tangan terlipat, menyimak detik-detik khidmat itu.

Lagu “Gugur Bunga” mengalun lembut — nadanya mengiris hening pagi itu. Semua yang hadir seolah terlempar pada ingatan tentang tujuh pahlawan revolusi yang gugur dalam tragedi G30S 1965.

Presiden Prabowo menengadahkan kedua tangannya, memanjatkan doa untuk para pahlawan bangsa. Tak ada kata terucap, hanya wajah khusyuk dan mata yang sedikit berkaca. Setelah itu, ia membasuh wajah, bersalaman dengan para pendamping, lalu meninggalkan lokasi dengan langkah tenang.

Baca juga: Dedi Mulyadi Minta Program MBG Diaudit

Momen itu menandai berakhirnya seluruh rangkaian peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2025 sebuah peringatan yang tak hanya seremonial, tapi juga pengingat tentang harga mahal persatuan dan keutuhan bangsa.


Momen Prabowo di Lubang Buaya menjadi simbol itu bahwa pemimpin tidak selalu perlu berorasi untuk menunjukkan nasionalismenya. Cukup dengan satu doa, satu penghormatan, dan satu kepala yang menunduk, pesan kebangsaan itu tersampaikan dengan sempurna.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun ini terasa berbeda. Tak ada gegap gempita, tak ada panggung besar hanya kesadaran yang tumbuh diam-diam, bahwa bangsa ini pernah melalui masa kelam, dan tugas generasi kini adalah menjaga agar kegelapan itu tak terulang.

Baca juga: Tunjangan Sertifikasi Guru Tersendat, Jika Belum Setor ‘Uang Kopi’

RameNews melihat, langkah simbolik Presiden Prabowo ini juga menjadi refleksi politik yang halus, bahwa kepemimpinan bukan sekadar soal kekuatan dan strategi, tapi juga soal empati dan ingatan sejarah.

Karena bangsa yang lupa pada masa lalunya, pelan-pelan akan kehilangan arah masa depannya. Dan di bawah bayangan Monumen Pancasila Sakti, Indonesia kembali diajak untuk mengingat bukan untuk dendam, tapi untuk dewasa.

Para anggota Kabinet Merah Putih yang hadir antara lain Menko Polkam Djamari Chaniago, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto, Wamenkomdigi sekaligus Badan Komunikasi Pemerintah Angga Raka Prabowo, serta Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan.

Hadir juga di lokasi, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga Kepala Staf Angkatan Darat Maruli Simanjuntak, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Muhammad Ali, serta Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Tonny Harjono. (yans)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *